Sejak menjabat gubernur,
Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur.
Dia lebih sering tinggal di istana.
Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas
dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
“Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid,” gumam sang gubernur.
Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi.
Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya
meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.
Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur.
Dia lebih sering tinggal di istana.
Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas
dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
“Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid,” gumam sang gubernur.
Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi.
Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya
meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.